Kemandirian adalah
sesuatu yang sangat penting dimiliki setiap insan manusia. Walaupun ada sebuah
kata yang mengatakan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri alias membutuhkan
bantuan orang lain namun tetap saja rasa dan sikap kemandirian tentu saja
haruslah dimiliki oleh setiap insan manusia untuk mengadapi hidupnya. Karena diri
sendirilah yang berperab penting dan memiliki kendali penuh atas dirinya
sendiri. Berikut ini cara menanamkan rasa kemandirian pada anak agar memiliki
jiwa kemandirian yang tepat.
·
Menumbuhkan percaya diri anak
Setiap bayi
sebenarnya sudah memiliki kepercayaan diri, tetapi ketika dia balita sebaiknya
orang tua sepatutnya memberikan respon positif atas kebutuhan si anak. Hal ini
dapat meningkat perasaan kepercayaan dari si balita dan balita pun akan merasa
aman juga didalam kehidupannya. Dengan perasaan aman tersebut, balita pun akan
lebih berani didalam menghadapi tantangan yang ada dihadapannya. Selanjutnya
mandiri pun akan ikut terbentuk juga ketika menyelesaikan persoalannya.
·
Memberikan tanggungjawab atau kepercayaan kepada anak
Ketika kita
melihat/merasa anak kita melakukan sesuatu yang kita rasa dia mampu melakukannya,
sebaiknya kita memberi kesempatan kepada dia untuk melakukannya sendiri. Kita
bisa memberi kesempatan kepada dia dan jangan melarangnya jika kita merasa dia
mampu serta jangan terlalu risau. Memberi kesempatan dan kepercayaan kepada
anak akan dapat membuat anak berani dan mandiri juga.
·
Memberi contoh
Seperti pepatah yang
mengatakan bahwa anak adalah cerminan diri kita. Ya, pepatah tersebut benar
adanya karena anak akan selalu mencontoh, terutama dari orang terdekatnya yaitu
orangtua. Jika orang tua memiliki kepribadian yang tertutup misal tidak
suka melakukan hal-hal yang baru, takut menghadapi tantangan sebaiknya tidak
untuk terlalu mengharapkan balitanya tumbuh dengan memiliki kepribadian berani
dan mandiri. Dengan memberi contoh yang nyata kepada anak, anak akan
memahaminya dan semakin mudah dia menirunya. Namun jika orang tua tidak atau
belum bisa memberi contoh yang nyata kepada anak, sebaiknya jangan menunjukkan
“ketakutan” dan “ketidakmandirian” kepada si anak, baik secara langsung atau
tidak langsung.
·
Jangan memaksa
Semua yang kita
lakukan untuk melatih keberanian dan kemandirian anak memerlukan waktu dan
proses, hal itu dapat berkembang secara perlahan sehingga jangan kita memaksa
si anak untuk menguasai segala hal yang diajarkan pada saat itu juga. Misal
melatih anak untuk selalu bangun tidur langsung mandi, jangan memaksa anak saat
itu juga untuk menguasai hal tersebut, perlu beberapa hari hingga lancar. Orang
tua selalu dampingi dan mengingatkan si anak untuk melakukan hal yang benar
tersebut. Tetapi perlu diingat agar jangan terlalu sering/keras mengkritik si
anak karena hal itu akan membuat nyali/keberanian si anak akan turun/down.
·
Jangan terlalu membebani
Perlu diingat bahwa
tahapan yang bisa dilalui oleh si anak adalah berkembang secara bertahap,
sehingga stimulus yang diberikan kepada si anak harus disesuaikan juga dengan
perkembangan si anak. Jika terlalu banyak stimulus akan membuat si anak bingung
dan akan kehilangan keberanian untuk melakukan sesuatu.
·
Menetapkan batasan dengan tepat
Kita tetap harus
memberi batasan apa yang boleh dilakukan oleh anak kita, tetapi larang yang
diberikan itu harus dapat disertai dengan alasan yang logis. Misal ketika si
anak melatih keberaniannya dengan bermain di luar teras rumah, sepatutnya orang
tua tidak menakut-nakuti si anak dengan hal-hal yang tidak bisa difahami/logis
oleh si anak, contohnya mengatakan s anak akan diganggu hantu atau digigit anjing,
dan sebagainya. Ketakutan tersebut akan ditangkap oleh otaknya sebagai
kenyataan yang benar dan si anak pun akan tidak berani keluar dari teras
rumahnya, akhirnya akan mempengaruhi keberanian dan kemandirian dia.
·
Memberi kesempatan memilih
Anak yang terbiasa
berhadapan dengan situasi atau hal-hal yang sudah ditentukan oleh orang lain,
akan malas untuk melakukan pilihan sendiri. Sebaliknya bila ia terbiasa
dihadapkan pada beberapa pilihan, ia akan terlatih untuk membuat keputusan
sendiri bagi dirinya. Misalnya, sebelum menentukan menu di hari itu, ibu
memberi beberapa alternatif masakan yang dapat dipilih anak untuk makan
siangnya. Demikian pula dalam memilih pakaian yang akan dipakai untuk pergi ke
pesta ulang tahun temannya, misalnya. Kebiasaan untuk membuat keputusan –
keputusan sendiri dalam lingkup kecil sejak dini akan memudahkan untuk kelak
menentukan serta memutuskan sendiri hal-hal dalam kehidupannya
·
Hargailah usahanya
Orang tua mungkin
kadang merasa tidak sabar menghadapi usaha anak untuk berusaha sendiri tanpa
bantuan orangtua. Namun, mulai sekarang Anda harus bisa menghargai sekecil
apapun usaha yang diperlihatkan anak untuk mengatasi sendiri kesulitan yang ia
hadapi. Sebaiknya orang tua memberi kesempatan pada anak untuk mencoba dan tidak
langsung turun tangan untuk membantu. Kesempatan yang anda berikan ini akan
dirasakan anak sebagai penghargaan atas usahanya, sehingga akan mendorongnya
untuk melakukan sendiri hal-hal kecil seperti itu.
·
Jangan langsung menjawab pertanyaan
Meskipun salah tugas
orang tua adalah memberi informasi serta pengetahuan yang benar kepada anak,
namun sebaiknya orang tua Anda tidak harus langsung menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Sebaliknya, berikan kesempatan pada anak
untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dan tugas Andalah untuk mengkoreksinya
apabila salah menjawab atau memberi penghargaan kalau ia benar. Dengan demikian
pun anak terlatih untuk tidak begitu saja menerima jawaban orang tua, yang akan
diterima mereka sebagai satu jawaban yang baku.
·
Dorong untuk mencari alternatif
Sebaiknya anak pun
tahu bahwa untuk mengatasi suatu masalah, orang tua bukanlah satu-satunya
tempat untuk bertanya. Masih banyak sumber-sumber lain di luar rumah yang dapat
membantu untuk mengatasi masalah yang dihadapinya. Untuk itu, cara yang dapat
dilakukan adalah dengan memberitahu sumber lain yang tepat untuk dimintakan
tolong untuk mengatasi suatu masalah tertentu. Dengan demikian anak tidak akan
hanya tergantung pada orang tua, yang bukan tidak mungkin kelak justru akan
menyulitkan dirinya sendiri .
·
Jangan patahkan semangatnya
Tak jarang orang tua
ingin menghindarkan anak dari rasa kecewa dengan mengatakan “mustahil” terhadap
apa yang sedang diupayakan anak.
Sebenarnya apabila
anak sudah mau memperlihatkan keinginan untuk mandiri, dorong ia untuk terus
melakukanya. Jangan sekali-kali anda membuatnya kehilangan motivasi atau
harapannya mengenai sesuatu yang ingin dicapainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar