Selasa, 06 Januari 2015

Pejuang Emansipasi Wanita

Jika kita mendengar RA Kartini tentunya nama itu bukanlah sebuah nama yang asing ketika didengar. Nama tokoh dari salah satu wanita yang menjadi pelopor emansipasi wanita di tanah Jawa ini memanglah sangat terkenal karena perjuangannya didalam dunia pendidikan bagi kaum hawa.
Raden Ajeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini lahir pada 21 ApriI 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Tokoh perempuan Jawa sekaligus Pahlawan Nasional Indonesia ini dikenal sebagai sang pelopor kebangkitan para perempuan pribumi. Kartini adalah putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara dan istri pertamanya, M.A. Ngasirah. Ia dibesarkan dalam keluarga priyayi Jawa. Kartini bersekolah di ELS (Europese Lagere School) hingga usia 12 tahun. Di sekolah tersebut, Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit. Meski ia tidak bersekolah lagi, ia di rumah tetap belajar sendiri dan menulis surat berbahasa Belanda kepada teman-teman korespondensinya yang berasal dan Belanda, salah satunya adalah Rosa Abendanon. Dan buku-buku, koran, dan majalah Eropa yang telah dibacanya, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir para perempuan Eropa. Maka, timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, di mana kondisi sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Perjuangan Kartini untuk Pendidikan Perempuan
Usaha R.A. Kartini yang pertama. adalah mendirikan sebuah tempat belajar untuk para gadis di rumahnya. Tempat pendidikan bagi para gadis ini, selain memberl pelajaran membaca, menulis, dan berhitung.juga memberi bekal keterampilan memasak, menjahit, dan kerajinan tangan. Dengan usaha pendidikan maka kaum perempuan akan menjadi sadar akan hak dan tanggung jawabnya. Mereka akan lebih mampu menempuh jalan hidupnya sendiri. Perempuan yang telah dicerdaskan oleh pendidikan, tidak akan sanggup hidup dalam “dunia nenek moyangnya”. Mereka akan bangkit berjuang mematahkan belenggu itu. Perjuangan ini akan menghasilkan buah yang disebut Kartini sebagai persamaan hak itu yang telah terbayang di udara. Dia juga menyadari bahwa ketidaksamaan hak itu dikondisikan oleh belenggu Kolonialisme Belanda. Sebagai anak muda yang berasal dari kalangan bangsawan, Kartini tidak buta terhadap berbagai kepincangan sosial yang terjadi. Hal itu memang diharapkan dari seseorang dalam kedudukan itu, tetapi di zamannya tidak diharapkan datang dari seorang perempuan. Dalam kondisi seperti itu, Kartini tidak hanya mengamati secara pasif, tetapi ia justru menumbuhkan dalam dirinya tentang hal-hal yang perlu diubah di lingkungan sosialnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar